Jayapura,Beritapapuaterkini.com -Perum Bulog Kantor Wilayah Papua memastikan ketersediaan stok beras di Papua dalam kondisi aman menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain menjaga pasokan, Bulog juga terus meningkatkan penyerapan gabah dan beras hasil panen petani di Kabupaten Merauke.
Kepala Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari, mengatakan hingga saat ini stok beras yang dikelola Bulog masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Papua.
“Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, ketersediaan beras untuk wilayah Papua dalam kondisi aman,” ujar Ahmad Mustari kepada awak media di Jayapura, Kamis (23/7/2026).
Di sisi lain, Bulog terus menjalankan program penyerapan gabah dan beras dari petani di Merauke sebagai upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Menurut Ahmad, target penyerapan gabah dan beras di Merauke hingga Desember 2026 mencapai 27 ribu ton. Hingga saat ini, realisasi penyerapan telah mencapai 3.774 ton.
“Realisasi penyerapan sampai hari ini sudah mencapai 3.774 ton. Mudah-mudahan sampai Desember nanti target sekitar 27 ribu ton dapat tercapai,” katanya.
Ahmad menjelaskan, Bulog berfokus pada jumlah gabah dan beras yang berhasil masuk ke gudang sebagai dasar pelaporan. Sementara itu, proses produksi yang dilakukan oleh petani, baik petani modern maupun petani yang telah lama bercocok tanam, bukan menjadi ranah Bulog.
“Yang menjadi fokus kami adalah hasil panen yang masuk ke gudang Bulog. Kami terus memberikan dukungan agar harga gabah maupun beras di tingkat petani tidak jatuh di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah,” jelasnya.
Untuk mencapai target penyerapan tersebut, Bulog secara rutin melakukan pemantauan langsung ke sentra-sentra produksi pertanian di Merauke. Langkah ini dilakukan guna memastikan hasil panen petani dapat terserap dengan baik serta menjaga stabilitas harga selama musim panen.
Ahmad menambahkan, sebagian besar hasil panen petani di Merauke selama ini disalurkan ke Bulog. Menurutnya, distribusi ke luar daerah, khususnya ke Pulau Jawa, dinilai kurang efisien karena tingginya biaya angkut.
“Selama ini hasil panen di Merauke memang banyak masuk ke Bulog. Membawa beras ke Jawa tentu membutuhkan biaya transportasi yang besar, sehingga lebih efektif diserap di wilayah sendiri,” pungkasnya.















































