Hisfarma Gelar Workshop Tata Laksana Terapi TBC dan Manajemen Bisnis Apotek Pemula

0
78

Jayapura,Beritapapuaterkini.com -Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (Hisfarma) Daerah Papua menggelaro Workshop bertajuk “Tata Laksana Terapi Tuberkulosis (TBC) di Papua dan Manajemen Pembukaan Bisnis Apotek Pemula”, sebagai bagian dari rangkaian seminar farmasi masyarakat Papua tahun 2025.

Workshop yang berlangsung di Hotel Mercure Jayapura itu, dibuka secara langsung oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr. dr. Arry Pongtiku, MHM, Sabtu (18/10/2025).

“Pentingnya peran tenaga kesehatan, termasuk apoteker, dalam mengatasi permasalahan TBC di Indonesia, khususnya di Papua,” tegas Pongtiku kepada awak media, usai membuka kegiatan workshop tersebut.

Menurutnya, Workshop ini sangat relevan mengingat Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, naik dari posisi ketiga sebelumnya. Pemerintah memiliki target untuk menurunkan angka tersebut sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Dijelaskan Pongtiku, TBC tidak hanya menyebabkan kematian, tetapi juga mengurangi produktivitas masyarakat karena penderitanya tidak bisa bekerja. Karena biaya pengobatan TBC biasa bisa mencapai Rp700.000 per pasien, sementara pengobatan TBC yang resisten obat bisa mencapai hingga Rp70 juta per kasus.

“Di Papua, kasus TBC sangat berkaitan erat dengan tingginya angka HIV. Dari sekitar 54.000 orang dengan HIV/AIDS di Papua, sekitar 25.000 di antaranya berpotensi meninggal karena TBC. Karena itu, pendekatan komprehensif sangat dibutuhkan,” terangnya.

Lebih lanjut Pongtiku menjelaskan, pemerintah Provinsi Papua saat ini juga menerapkan strategi TOSCA (Temukan, Obati Sampai Sembuh) dalam penanggulangan TBC.

“Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan Puskesmas, termasuk pemanfaatan teknologi Tes Cepat Molekuler (TCM) yang mampu memberikan hasil diagnosis hanya dalam tiga jam, lebih cepat dibanding metode mikroskop konvensional,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah IAI Papua, apt. Edward Manik Sihotang, S.Si., M.Kes., menjelaskan kegiatan ini juga menjadi momentum konsolidasi organisasi dan peningkatan kapasitas apoteker.

“Kegiatan ini penting, untuk konsolidasi organisasi mengingat tantangan apoteker di komunitas saat ini semakin kompleks, seiring dinamika ekonomi dan pelayanan kemanusiaan. Selain itu, workshop ini juga menjadi wadah pengembangan kompetensi anggota,” kata Edward.

Ia juga menyoroti perlunya penguatan aspek pengabdian masyarakat dalam profesi kefarmasian. “Tenaga kesehatan, termasuk apoteker, bukan hanya menjalankan profesi, tetapi juga harus hadir untuk melayani masyarakat,” tambahnya.

Selain materi terkait terapi TBC, workshop ini juga membahas peluang bisnis apotek pemula serta pemanfaatan obat tradisional lokal yang berpotensi dikembangkan secara ilmiah dan komersial untuk mendukung layanan kesehatan di Papua.