Jayapura,Beritapapuaterkini.com – Persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang dirangkaikan dengan mengenang peristiwa “Korban 40 Ribu Jiwa” di Sulawesi Selatan telah mencapai 80 persen.
Panitia pelaksana yang terdiri dari pengurus KKSS Provinsi Papua dan Kota Jayapura memastikan seluruh rangkaian kegiatan siap digelar pada 5–6 Desember 2025.
Ketua BPD KKSS Kota Jayapura, Ir. Junaedi Rahim, IAI, mengatakan perayaan tahun ini dirancang lebih meriah dengan melibatkan warga KKSS dari berbagai daerah.
“Hari pertama warga KKSS akan melakukan anjangsana ke TMP, kemudian dilanjutkan sejumlah perlombaan seperti karaoke, vokal grup KKSS, dan fashion show baju adat. Pada 6 Desember siang akan digelar Talk Show, dan malam harinya resepsi puncak,” ujarnya kepada wartawan di Kantor DPR Papua, Kamis (27/11/2025).
Rangkaian kegiatan sosial turut menjadi bagian dari peringatan ini, termasuk kunjungan ke pondok pesantren, panti asuhan, serta pagelaran seni dan budaya. Festival kuliner, lomba karaoke, senam kebugaran nusantara, dan pertunjukan adat Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar juga akan memeriahkan acara yang dipusatkan di Caffe Ulfapua Bach Jayapura, kawasan Jembatan Merah.
Junaedi Rahim menegaskan pihaknya akan menghadirkan cendekiawan, akademisi, dokter, hingga saudagar dalam Talk Show Diaspora Bugis-Makassar-Toraja-Mandar.
“Kami juga mengundang perwakilan Pemprov dan Pemkot Jayapura untuk memberikan pandangan bagaimana KKSS berperan selama berada di Tanah Papua,” tambahnya.
Junaedi mengungkapkan panitia HUT ke-49 KKSS telah bertemu Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, ST., MM., MH., untuk melaporkan persiapan kegiatan. Dukungan penuh pun diberikan oleh Ketua DPR Papua tersebut.
“Beliau sangat mensupport baik secara moril maupun bantuan dana. Bahkan beliau yang akan membuka secara resmi puncak acara peringatan HUT ke-49 KKSS,” terang Junaedi.
Sementara itu, resepsi utama dijadwalkan akan dibuka oleh Gubernur Papua. Junaedi menyebut momentum peringatan tahun ini menjadi saat yang tepat untuk mempererat kebersamaan perantau Sulawesi Selatan di Papua, sekaligus mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi pada Desember 1946 hingga Februari 1947.
“Peristiwa 40 ribu jiwa di Sulawesi Selatan adalah lembaran kelam sejarah bangsa, di mana ribuan rakyat sipil menjadi korban kekejaman pasukan Westerling,” pungkasnya.




