Jayapura,Beritapapuaterkini.com – Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua kembali menggelar kegiatan “Semarak Rupiah di Hari Natal Penuh Damai” atau Serunai untuk memastikan ketersediaan uang kartal jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.
Acara tersebut akan berlangsung pada 8–23 Desember 2025, dan tahun ini Jayapura ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan nasional, yang akan dipusatkan di halaman Kantor Gubernur Papua serta dibuka langsung oleh Gubernur Papua.
Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan BI Papua, David Sipahutar, menjelaskan penyediaan uang rupiah merupakan mandat undang-undang, baik UU Mata Uang maupun UU Bank Indonesia. “Rupiah adalah simbol kedaulatan bangsa. BI memiliki tugas menjaga stabilitas sistem pembayaran, baik tunai maupun nontunai,” ujar David di Jayapura, Jumat (5/12/2025).
Menghadapi meningkatnya kebutuhan uang kartal di periode Nataru, Kata David, BI menyiapkan Rp5,1 triliun uang tunai untuk didistribusikan di empat provinsi yakni Papua Induk, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Angka ini meningkat dari proyeksi pengeluaran uang sepanjang tahun yang mencapai Rp 3,1 triliun.
Kebutuhan uang tunai pada periode Nataru diprediksi melonjak signifikan. Tahun 2024 kebutuhan mencapai Rp12 miliar, sementara untuk Nataru 2025 diproyeksikan naik hingga Rp27,6 miliar.
“Kami sudah menghitung bersama perbankan mengenai kebutuhan Desember. BI Jayapura memiliki stok yang sangat cukup untuk memastikan masyarakat mendapatkan pecahan uang sesuai kebutuhan,” terang David.
Dalam program Serunai, BI juga menyediakan layanan kas keliling setiap hari yang dipusatkan di gereja-gereja dengan jumlah jemaat besar serta mitra strategis seperti kantor pemerintah daerah dan lembaga lain.
Penukaran uang tahun ini diperluas cakupannya. Jika sebelumnya limit penukaran hanya Rp4 juta, kini meningkat menjadi Rp5 juta per orang, dengan syarat menunjukkan KTP serta melakukan pendaftaran melalui aplikasi PINTAR BI.
Selain layanan penukaran uang, BI mengintegrasikan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait penggunaan dan perawatan uang rupiah.
Menurut David, edukasi ini juga penting untuk menekan potensi inflasi.
“Kami ingin masyarakat Papua memakai rupiah, menjaga kualitasnya, dan menukarkan sesuai kebutuhan agar tidak terjadi pemborosan yang bisa memicu tekanan harga,” jelas David.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian harga menjelang Nataru, BI Papua juga akan menggelar pasar murah pada sejumlah titik. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.
Melalui Serunai, lanjut David, BI memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat Papua dapat memperoleh uang rupiah dalam kondisi layak edar. Penukaran akan difokuskan pada pecahan kecil yang paling banyak dibutuhkan selama masa perayaan.
“Kami ingin masyarakat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan tenang, dan memastikan akses yang merata terhadap uang rupiah yang berkualitas,” pungkas David.




