APTISI Papua Jajaki Kerja Sama dengan UKSW, Dorong PTS Tingkatkan Akreditasi hingga Unggul

0
91

Jayapura,Beritapapuaterkini.com – Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Papua menjajaki kerja sama strategis dengan Universitas Kristen Satya Wacana guna meningkatkan kualitas perguruan tinggi swasta (PTS) di Papua, khususnya dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan peningkatan akreditasi.

Ketua APTISI Papua, Prof. Dr. Husni Ingratubun, mengatakan rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Kristen Setia Wacana (UKSW) dilakukan bertepatan dengan kunjungan Rektor UKSW ke Papua. Kerja sama tersebut nantinya akan ditindaklanjuti dalam bentuk perjanjian kerja sama (PKS) dengan seluruh PTS di wilayah Papua.

“Kerja sama ini menjadi langkah penting untuk menjawab kebutuhan peningkatan kualitas pimpinan dan institusi PTS di Papua pada tahun 2026,” tersangkanya kepada awak media disela – sela pertemuan dengan Rektor UKSW di ruang Sekda Papua, Rabu (25/3/2026).

Ingrarubun menjelaskan, saat ini terdapat 28 PTS di Papua dengan capaian akreditasi rata-rata berada pada kategori “baik sekali”. Namun, belum ada yang mencapai peringkat “unggul”. Oleh karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi yang telah berstatus unggul dinilai penting untuk mempercepat peningkatan mutu.

“Tujuan akhirnya adalah mendukung visi misi  gubernur dan wakil gubernur Papua menuju Papua Cerah,” tambah Husni.

Sementara itu, Rektor UKSW, Intiyas Utami, menyambut positif rencana kerja sama tersebut. Prof Intiyas menegaskan kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk di Papua.

Selain mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kerja sama ini juga akan mencakup pengembangan sumber daya manusia, khususnya peningkatan kapasitas dosen melalui studi lanjut jenjang magister (S2) dan doktoral (S3) di UKSW.

“Kami melihat program pemerintah daerah Papua dalam meningkatkan kualitas SDM sangat sejalan dengan upaya peningkatan kapasitas dosen melalui pendidikan pascasarjana,” jelasnya.

Prof Intiyas juga membuka peluang kolaborasi dalam penyelenggaraan perkuliahan, termasuk pertukaran mata kuliah hingga program double degree antara PTS di Papua dan UKSW. Menurutnya, model pembelajaran kolaboratif lintas kampus akan memperkuat kualitas lulusan dan daya saing perguruan tinggi.

Lebih lanjut, UKSW yang telah masuk peringkat 800 dunia dan 100 besar dunia untuk tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) versi QS, berkomitmen mendorong kolaborasi riset internasional bersama PTS di Papua.

“Melalui publikasi bersama dan penelitian kolaboratif, kita bisa mendorong perguruan tinggi di Papua untuk masuk ke level global,” terangnya.

UKSW juga tengah menyiapkan program unggulan baru di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), termasuk pengembangan riset berbasis konteks lokal seperti deteksi bencana di Papua. Program ini diharapkan dapat melibatkan kampus-kampus lokal sebagai mitra strategis.

Di sisi lain, Penjabat Sekretaris Daerah Papua, Christian Sohilait, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah daerah dalam mengatasi berbagai persoalan pembangunan.

Menurutnya, Papua saat ini menghadapi sejumlah tantangan, antara lain penurunan kapasitas fiskal daerah, persoalan pendidikan, hingga kekurangan tenaga guru yang mencapai sekitar 15 ribu orang.

“Perguruan tinggi adalah mitra strategis pemerintah dalam memberikan solusi berbasis kajian ilmiah, termasuk untuk menjawab berbagai persoalan sosial seperti stunting, pendidikan, dan pembangunan wilayah,” katanya.

Sohilait berharap kolaborasi antara APTISI Papua dan UKSW dapat menghasilkan kontribusi nyata, baik dalam bentuk riset maupun rekomendasi kebijakan, guna mendukung pembangunan Papua yang lebih maju.

Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi pendidikan tinggi di Papua melalui kolaborasi lintas institusi, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan daerah menuju Papua Cerah.