Jayapura,Beritapapuaterkini.com – Pembangunan Gedung Gereja GPDI Yerusalem Baru di Kota Jayapura terus menunjukkan perkembangan. Saat ini, panitia pembangunan telah memasuki tahap pemasangan atap dengan target penyelesaian pada Juli hingga Agustus 2026.
Ketua Panitia Pembangunan Gedung Gereja GPDI Yerusalem Baru, Boy Dawir, mengatakan setelah pekerjaan atap rampung, pembangunan akan dilanjutkan dengan pemasangan dinding menggunakan batu.
“Puji Tuhan, hari ini kami sudah masuk tahap pemasangan atap. Target kami Juli sampai Agustus pekerjaan atap selesai, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan batu,” ujar Boy Dawir usai acara Doa Syukur Paku Senk gedung gereja GPDI Yerusalem Baru, kali Hanyaan Entrop, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, proyek pembangunan gereja tersebut membutuhkan anggaran yang cukup besar. Total biaya yang diperlukan hingga pembangunan gedung, pagar, dan area parkir selesai mencapai Rp71 miliar.
Hingga saat ini, panitia telah menghabiskan sekitar Rp27 miliar, sehingga masih membutuhkan tambahan dana sekitar Rp44 miliar untuk menyelesaikan seluruh pembangunan.
Meski demikian, Boy mengaku tetap optimistis kebutuhan anggaran tersebut dapat terpenuhi.
“Saya sangat yakin ini adalah proyek Tuhan. Karena itu saya percaya Tuhan akan membuka jalan untuk memenuhi kekurangan dana yang masih kami butuhkan,” katanya.
Boy mengungkapkan, berbagai bentuk dukungan dari masyarakat dan jemaat terus berdatangan. Di antaranya bantuan 30 ribu batu tela yang akan digunakan untuk pembangunan lantai satu, lantai dua, balkon hingga menara gereja. Selain itu, panitia juga menerima bantuan 100 sak semen, sehingga secara bertahap dapat mengurangi kebutuhan anggaran.
Boy menjelaskan, gedung tersebut nantinya akan menjadi gereja GPDI terbesar di Tanah Papua, sekaligus menjadi pusat kegiatan bagi jemaat GPDI di Provinsi Papua.
Saat ini, kata dia, GPDI di Provinsi Papua memiliki 52 wilayah (klasis) dan 372 sidang jemaat, sementara di Kota Jayapura terdapat 52 jemaat yang tersebar di lima wilayah.

“Gedung ini nantinya mampu menampung sekitar 2.500 jemaat di lantai dua. Jika memanfaatkan lantai satu dan halaman, kapasitasnya bisa mencapai sekitar 5.000 orang saat kegiatan besar,” jelasnya.
Dengan hadirnya gedung baru tersebut, GPDI tidak lagi bergantung pada penyewaan gedung untuk pelaksanaan kegiatan internal gereja.
“Kalau gereja ini sudah selesai, kami tidak perlu lagi menyewa gedung untuk kegiatan-kegiatan besar. Kami sudah memiliki gedung representatif untuk seluruh kegiatan GPDI,” ungkapnya.
Boy menargetkan pembangunan dapat selesai dan diresmikan pada 3 Agustus 2027.
Boy juga menjelaskan perjalanan pembangunan gereja yang dimulai sejak 2021. Sebelumnya, panitia sempat beberapa kali memindahkan lokasi pembangunan akibat persoalan sengketa lahan.
“Pembangunan sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, tetapi dua lokasi sebelumnya bermasalah karena sengketa. Akhirnya pada 2021 kami memulai pembangunan di lokasi yang sekarang karena sudah tidak ada persoalan hukum,” katanya.
Menurut Boy, pekerjaan konstruksi berjalan penuh pada 2022 hingga 2024. Sementara sepanjang 2025 aktivitas pembangunan sempat melambat karena dirinya terlibat dalam tim pemenangan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, sehingga muncul anggapan pembangunan gereja terhenti.
Boy membantah isu tersebut dan menegaskan pembangunan tidak pernah mangkrak.
“Yang benar, pembangunan tidak berhenti. Material atap sudah tersedia 100 persen, rangka plafon sudah lengkap, material elektrikal, kabel, hingga cat juga sudah tersedia. Jadi bukan mangkrak, tetapi kami mengatur ritme pekerjaan sesuai kondisi yang ada,” tegasnya.
Panitia berharap dukungan dari jemaat, masyarakat, maupun para donatur terus mengalir agar pembangunan Gereja GPDI Yerusalem Baru dapat selesai sesuai target dan menjadi pusat pelayanan bagi ribuan warga GPDI di Tanah Papua.




