Jayapura,Beritapapuaterkini.com – Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, Yanni, menemui masyarakat adat keluarga Mebri , Tukayo ,Makuba , untuk membangun komunikasi sekaligus mendengar aspirasi mereka terkait hak ulayat dalam pembangunan RSUP Jayapura di Jayapura, Sabtu (4/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, masyarakat adat menyatakan dukungan terhadap pembangunan rumah sakit yang dikerjakan Kementerian Kesehatan itu. Ondoafi Mebri bahkan telah ikut meletakkan batu pertama pembangunan meski pembicaraan mengenai kompensasi hak ulayat masih berlangsung.
“Pertemuan berlangsung dengan semangat kekeluargaan, mereka mengerti tujuan pembangunan rumah sakit adalah untuk kepentingan umum,” ujar Yanni di Jayapura, Sabtu (4/10/2026).
Menurut Yanni, ada satu aspirasi yang cukup kuat disampaikan kepadanya. Keluarga pemilik tanah berharap putra-putri mereka mendapat kesempatan bekerja di rumah sakit tersebut.
Yanni mengatakan, dari informasi yang diterimanya, baru satu orang dari keluarga pemilik hak ulayat yang direkrut sebagai sekuriti. Sementara kebutuhan tenaga kerja di rumah sakit jauh lebih besar.
“Harapan mereka agar anak-anak dari keluarga besar pemilik hak ulayat bisa dilibatkan di rumah sakit itu,” kata Yanni.
Rumah Sakit dan Masyarakat Sekitar
Yanni menilai, harapan masyarakat sekitar untuk diberi kesempatan bekerja di rumah sakit sangat beralasan. Putra-putri pemilik hak ulayat bisa ditempatkan untuk mengisi kebutuhan tenaga pendukung operasional rumah sakit, seperti petugas keamanan, kebersihan, administrasi, dan pekerjaan pendukung lainnya sesuai kebutuhan serta kualifikasi.
Yanni selanjutnya mengaitkan aspirasi masyarakat tersebut dengan pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai hubungan fasilitas kesehatan dengan masyarakat di sekitarnya.
Menurut Yanni, konsep _community engagement_ yang dikembangkan WHO, menempatkan hubungan, kepercayaan, dialog, dan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dalam membangun pelayanan kesehatan yang berpusat pada komunitas.
“WHO punya pandangan bahwa rumah sakit tidak bisa berdiri sendiri dari komunitas di sekitarnya. Ada hubungan antara rumah sakit dan masyarakat. Ada komunikasi, ada partisipasi, ada kepercayaan,” jelas Yanni.
Menurut dia, hubungan tersebut menjadi semakin penting ketika rumah sakit dibangun di atas tanah masyarakat adat.
“Tentu saja yang direkrut adalah mereka yang punya kualifikasi, siap dilatih, dan mampu beradaptasi dengan budaya korporasi,” kata Yanni.
Dalam konteks RSUP Jayapura, Yanni melihat hubungan dengan masyarakat harus berlangsung harmonis, agar niat baik pemerintah untuk menjadikan rakyat papua yang sehat bisa terwujud.
“Ini kepentingan umum. Karena itu kita harus mencari jalan yang baik. Masyarakat adat mendukung rumah sakit ini, dan aspirasi mereka juga harus didengar,” kata Yanni.
Dalam pertemuan tersebut, Yanni didampingi tiga anggota DPR Provinsi Papua yaitu Giovanno Patipawai, Yeyen, dan Yohannes Wakum.
Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya menyelesaikan persoalan adat sebelum rencana kedatangan Presiden Prabowo untuk meresmikan RSUP Jayapura yang direncanakan bulan ini.




